Share

GRESIK, Ikabar.id – Wakil Ketua Kadin Jawa Timur Bidang Migas, Tri Prakoso, S.H., M.HP., mendorong kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) tidak terburu-buru masuk politik praktis setelah menyelesaikan pendidikan strata satu (S1).

Menurut Tri, kader GMNI memiliki banyak pilihan ruang pengabdian yang dapat diisi, mulai dari birokrasi, profesi hukum, dunia usaha hingga lingkungan akademik.

Pandangan tersebut disampaikan Tri saat menjadi narasumber dalam Diskusi Publik “Sekolah Kader Vol. 2” yang membahas sinergi politik, teknokrasi dan entrepreneurship.

Jangan Terjebak Politik Praktis

Tri menilai organisasi mahasiswa seperti GMNI memiliki potensi besar untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkiprah di berbagai bidang.

Ia mengingatkan agar kader tidak menjadikan organisasi hanya sebagai jalan menuju politik praktis atau arena perebutan posisi internal.

Menurutnya, gerakan mahasiswa seharusnya memiliki ruang pengabdian yang lebih luas daripada sekadar mengejar jabatan politik.

Ia juga menyoroti kondisi pendidikan tinggi yang dinilainya perlu lebih banyak melahirkan calon pemimpin, bukan hanya tenaga kerja profesional.

Peluang ASN hingga Profesi Hukum

Salah satu hal yang menjadi perhatian Tri adalah masih adanya kader yang kurang tertarik mengisi ruang birokrasi dan profesi hukum.

Ia menyebut peluang menjadi aparatur sipil negara (ASN) maupun berkarier sebagai jaksa bagi lulusan hukum sebagai ruang pengabdian yang juga penting.

“Banyak teman-teman padahal ada peluang untuk menjadi ASN tapi tidak pernah mau, tidak diambil. Peluang dari Fakultas Hukum menjadi jaksa, banyak yang tidak diambil. Jadi begitu S1 jadi politisi. Rata-rata begitu,” paparnya.

Tri berharap kader GMNI mampu melihat berbagai pilihan karier tersebut sebagai bagian dari perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat.

Dorong Kader Lanjut S2

Selain memasuki dunia profesional, Tri juga mendorong kader GMNI melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut dia, kader yang memiliki kapasitas akademik dapat kembali mengisi ruang perguruan tinggi sebagai dosen maupun intelektual.

“Makanya saya ngomong, teruskan S2 kalau bisa ada yang jadi dosen. Karena hampir di semua universitas yang fenomenal, sekarang habis dosennya (dari kalangan GMNI),” tegas Tri.

Politik, Teknokrasi dan Entrepreneurship

Tri menekankan bahwa politik, teknokrasi dan kewirausahaan tidak seharusnya dipandang sebagai ruang yang saling terpisah.

Ketiganya dapat berjalan beriringan untuk membangun kapasitas kader sekaligus memperluas ruang pengabdian.

Karena itu, kader GMNI dinilai perlu memiliki kompetensi yang beragam dan tidak hanya mengandalkan pengalaman organisasi sebagai modal untuk masuk ke politik.

Dorongan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif kader agar berani mengambil peran di berbagai sektor strategis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top