Share

SURABAYA, iKabar.id — Lima tahun pascamerger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo membawa perubahan signifikan bagi PT Terminal Teluk Lamong (TTL). Selain mencatat pertumbuhan arus peti kemas hingga 2.187.964 TEUs pada 2025, TTL kini mengelola tiga terminal peti kemas di Surabaya.

Ketiga terminal tersebut adalah TPK Teluk Lamong, TPK Nilam, dan TPK Berlian. TPK Nilam mulai masuk dalam pengelolaan TTL pada 2024, sementara serah operasi TPK Berlian dilakukan pada 2025.

Perluasan pengelolaan tersebut menjadi bagian dari proses integrasi dan transformasi TTL dalam ekosistem Pelindo. Perusahaan juga melakukan berbagai pembenahan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta kualitas pelayanan kepada pengguna jasa.

Mengusung semangat “5 Tahun Bersatu, Bersama Kita Maju”, TTL menjadikan momentum lima tahun merger Pelindo sebagai pijakan untuk memperkuat integrasi operasional dan memperluas pemanfaatan teknologi.

Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, mengatakan pertumbuhan perusahaan tidak hanya dilihat dari peningkatan volume peti kemas.

“Lima tahun pascamerger menjadi perjalanan penting bagi Terminal Teluk Lamong. Kami tidak hanya tumbuh dari sisi volume, tetapi juga terus membangun fondasi operasional yang semakin terintegrasi, produktif, dan berorientasi kepada pelanggan,” ujar David dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).

Arus Peti Kemas Naik Hampir Tiga Kali Lipat

Dari sisi throughput, TTL mencatat pertumbuhan yang cukup besar dalam lima tahun terakhir.

Arus peti kemas meningkat dari 780.160 TEUs pada 2021 menjadi 2.187.964 TEUs pada 2025.

Kenaikan tersebut semakin terlihat dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, pertumbuhan arus peti kemas mencapai 55,9 persen, kemudian kembali meningkat 64,6 persen pada 2025.

Pertumbuhan volume tersebut berjalan beriringan dengan integrasi terminal serta peningkatan produktivitas dan efisiensi proses operasional.

Waktu Tunggu Kapal Turun

Salah satu perbaikan yang dilakukan TTL menyasar pelayanan kapal di dermaga domestik.

Arus kuat sebelumnya menjadi salah satu tantangan dalam pelayanan kapal karena dapat memengaruhi waktu operasional. TTL kemudian mengevaluasi pola operasi bersama pelayanan pemanduan.

Melalui penyempurnaan pola tersebut, kapal dapat dilayani secara lebih fleksibel tanpa harus menunggu kondisi arus tertentu.

Perubahan pola pelayanan tersebut mampu menurunkan rata-rata waktu tunggu kapal dari 6,67 jam menjadi 1,83 jam.

TTL kemudian mengembangkan penerapan Berthing Priority dan Berthing Window untuk memberikan kepastian jadwal sandar serta mengurangi waktu tunggu kapal.

Konsep tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan reliability jadwal pelayaran dan memberikan kepastian layanan bagi pengguna jasa.

Digitalisasi Atur Kedatangan Truk

Peningkatan efisiensi juga dilakukan pada aktivitas kendaraan di terminal.

TTL menerapkan Terminal Booking System (TBS) pada 2025 untuk mengoptimalkan pengaturan dan pemerataan kedatangan truk.

Penerapan sistem tersebut ditujukan untuk meningkatkan handling capacity, mengendalikan Truck Round Time (TRT), dan meningkatkan efisiensi proses haulage.

Selanjutnya, TTL mengembangkan Integrated Planning & Control untuk memperkuat proses perencanaan dan pengendalian aktivitas terminal secara terintegrasi dan berbasis data.

Digitalisasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan sekaligus memperkuat konektivitas antara terminal dengan pengguna jasa dan mitra dalam ekosistem logistik.

EAZI Jadi Terobosan Terbaru

Pada 2026, TTL kembali memperkuat transformasi pelayanan kapal melalui penerapan Express Anchorage Zone Service (EAZI).

Program tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan area labuh untuk mempercepat proses pelayanan kapal.

Melalui EAZI, proses pelayanan di area labuh dapat dilakukan lebih cepat. Hal ini membantu memperpendek waktu pergantian antarkapal dan mendukung percepatan proses sandar serta kegiatan operasional berikutnya.

David mengatakan berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari proses perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Transformasi bagi kami bukan satu proyek besar yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian continuous improvement,” kata David.

Menurutnya, proses tersebut mencakup berbagai aspek operasional, mulai dari percepatan kapal bersandar, kepastian jadwal, pengaturan kendaraan, hingga perencanaan dan pengendalian aktivitas terminal.

“Semua bermuara pada satu tujuan, yaitu memberikan layanan yang lebih cepat, pasti, aman, dan efisien kepada pelanggan,” ujarnya.

Bidik Terminal Smart dan Green

Setelah lima tahun merger Pelindo, TTL selanjutnya mengarahkan transformasi menuju ekosistem terminal yang smart, green, and sustainable.

Integrasi tiga terminal dinilai dapat membuka peluang optimalisasi kapasitas, aset, dan sumber daya secara lebih luas.

Standardisasi proses juga terus diperkuat untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan sinergi operasional antarterminal.

Pada saat yang sama, pemanfaatan teknologi digital dikembangkan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data dan meningkatkan konektivitas antara terminal, shipping line, transporter, pengguna jasa, serta mitra logistik.

Pengembangan operasional juga berjalan bersama komitmen terhadap efisiensi energi, pengurangan dampak lingkungan, keselamatan kerja, dan keberlanjutan.

“Integrasi tiga terminal memberikan ruang yang semakin besar bagi kami untuk mengoptimalkan kapasitas, aset, dan sumber daya secara lebih efektif,” ujar David.

Ke depan, TTL akan melanjutkan transformasi melalui penguatan integrasi tiga terminal, peningkatan produktivitas, digitalisasi, serta pengembangan innovation-driven operation.

Transformasi tersebut diharapkan semakin memperkuat kontribusi TTL terhadap konektivitas logistik, efisiensi rantai pasok, dan daya saing maritim Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top