SURABAYA, iKabar.id – Dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi pembahasan dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku yang digelar SEMA Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Rabu (26/8/2026).
Forum bertema “Dinamika Kepemimpinan NU dari Muktamar ke Muktamar: Meneladani Jejak Ulama dan Tokoh Bangsa dalam Pemberdayaan Masyarakat” itu membahas kepemimpinan NU menjelang Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Salah satu pembahasan merujuk buku “Gus Muhaimin Iskandar Meneladani 3 Tokoh: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri”. Buku tersebut menjadi pintu untuk melihat perjalanan Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin dalam konteks tradisi pesantren, NU, dan pemberdayaan masyarakat.
Gus Muhaimin kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dalam Kabinet Merah Putih.
Kepemimpinan Gus Muhaimin Dinilai Punya Akar Sejarah
Penulis buku, Sonny Majid, mengatakan kepemimpinan seorang tokoh tumbuh melalui proses panjang. Lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman organisasi, tradisi intelektual, serta pengaruh tokoh sebelumnya ikut membentuk perjalanan seorang pemimpin.
Menurut Sonny, perspektif tersebut dapat digunakan untuk membaca perjalanan Gus Muhaimin.
“Realitas ini memastikan tokoh kekinian terpengaruh secara ideologis dengan tokoh sebelumnya, termasuk Gus Abdul Muhaimin Iskandar,” ujar Sonny.
Ia menjelaskan, buku tersebut memilih KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri karena ketiganya memiliki karakter kepemimpinan yang berbeda.
KH Hasyim Asy’ari dikenal melalui kekuatan ilmu, akhlak, pesantren, dan perjuangan kebangsaan. Sementara KH Wahab Hasbullah memiliki kemampuan membaca perubahan zaman, membangun jaringan, serta menyusun strategi perjuangan.
Adapun KH Bisri Syansuri dikenal teguh menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus merespons persoalan sosial dan kebangsaan.
Ketiga karakter tersebut menjadi perspektif untuk membaca perjalanan Gus Muhaimin yang tumbuh dalam lingkungan pesantren dan tradisi NU.
Gus Muhaimin Disebut Memiliki Nasab dengan KH Bisri Syansuri
Sonny juga menjelaskan hubungan Gus Muhaimin dengan tiga ulama tersebut dari sisi genealogis. Menurut dia, Gus Muhaimin memiliki hubungan nasab dengan KH Bisri Syansuri dan merupakan cicit salah satu muassis NU tersebut.
“Gus Muhaimin lahir dari keluarga besar pesantren. Bahkan secara langsung sangat dekat nasabnya dengan Kiai Bisri Syansuri, muassis NU sekaligus Rais Aam NU setelah Kiai Wahab Hasbullah, yakni sebagai cicit,” jelas Sonny.
Menurut Sonny, latar belakang keluarga menjadi salah satu konteks dalam membaca perjalanan Gus Muhaimin hingga masuk ke panggung politik nasional.
Ia menegaskan, buku tersebut tidak hanya membahas perjalanan politik Gus Muhaimin. Penulis juga ingin melihat nilai yang ia bawa, terutama terkait masa depan pesantren dan pemberdayaan masyarakat.
Sonny menilai generasi muda perlu memahami proses lahirnya kepemimpinan agar tidak menilai seorang tokoh hanya dari popularitas atau posisi yang ia miliki.
“Semakin banyak membaca, akan semakin bijak memilih tentang kepemimpinan yang ideal, bahkan yang seharusnya ada bagi bangsa ini,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya akar sejarah dan ideologi dalam kepemimpinan.
“Pastinya, kepemimpinan yang memiliki akar sejarah yang jelas, baik ideologis maupun integritas. Bukan pemimpin yang ujug-ujug datang tanpa memiliki akar ideologis yang jelas,” tegasnya.
Akademisi UINSA Soroti Literasi Generasi Muda
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Muhammad Kurjum, M.Ag., menilai seminar dan bedah buku tersebut dapat memperkuat tradisi intelektual mahasiswa.
Menurut Prof Kurjum, pembahasan Gus Muhaimin melalui jejak tiga tokoh NU juga menunjukkan kesinambungan pemikiran antara generasi ulama pendiri NU dan generasi penerus yang menghadapi tantangan zaman berbeda.
“Ketiga tokoh tersebut memiliki karakter dan corak perjuangan yang berbeda, tetapi semuanya memberikan pelajaran penting tentang bagaimana ilmu, tradisi, kepemimpinan, dan kebangsaan dapat berjalan secara beriringan,” ujarnya.
Prof Kurjum mengatakan generasi muda perlu membaca keteladanan para ulama secara kritis. Menurutnya, nilai dan gagasan para tokoh sejarah harus diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Ia juga mengingatkan tantangan literasi di tengah derasnya arus informasi digital.
“Anak muda sekarang tidak kekurangan informasi. Tantangannya justru bagaimana mereka mampu memilih informasi yang benar, memahami konteksnya, dan mengolahnya menjadi pengetahuan,” katanya.
NU Dinilai Tetap Menjadi Magnet Kepemimpinan Bangsa
Guru Besar UIN Sunan Ampel sekaligus Plt. Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Prof. Dr. Mohamad Zaini, M.A., melihat dinamika kepemimpinan NU dalam konteks sejarah bangsa Indonesia.
Menurut Prof Zaini, NU terus mengalami perubahan sejak berdiri. Ia menilai NU mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman meski pernah mendapat anggapan sebagai organisasi yang kolot.
NU juga terus berkelindan dengan dinamika kebangsaan dan politik Indonesia, mulai masa pergerakan nasional, kemerdekaan, hingga politik elektoral modern.
“Dalam sejarah bangsa ini NU selalu menjadi magnet bagi elite bangsa ini, karena NU merupakan backbone bangsa ini,” ujar Prof Zaini.
Karena itu, ia menilai pembahasan kepemimpinan NU dari satu muktamar ke muktamar berikutnya tetap relevan, terlebih menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang.
“Forum ini penting bagi siapapun, termasuk akademisi, dalam memahami perkembangan NU dari muktamar ke muktamar. Bahkan semakin menarik apalagi dibahas jelang Muktamar NU ke-35 di Jombang,” tegasnya.
Muktamar NU ke-35 Jadi Momentum Membaca Arah Kepemimpinan
Seminar tersebut mempertemukan mahasiswa, aktivis organisasi ekstra kampus, dan aktivis kepemudaan di Surabaya. Forum membahas sejarah NU, keteladanan ulama, perjalanan tokoh bangsa, tradisi pesantren, serta pemberdayaan masyarakat.
Menjelang Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, pembahasan tersebut menjadi semakin relevan.
Sejarah NU menunjukkan organisasi tersebut terus bergerak mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Dalam perspektif seminar, membaca perjalanan Gus Muhaimin melalui jejak KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri tidak hanya berkaitan dengan perjalanan politik seorang tokoh.
Pembahasan itu juga melihat bagaimana nilai pesantren, tradisi NU, pengalaman organisasi, ketokohan ulama, dan gagasan pemberdayaan masyarakat dapat hadir dalam konteks Indonesia modern.
Bagi generasi muda, forum tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan membutuhkan proses, pengetahuan, pengalaman, akar sejarah, serta kemampuan membaca perubahan zaman.


