SIDOARJO, iKabar.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, setelah jumlah korban dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo menembus lebih dari 500 orang.
Keputusan penghentian operasional tersebut diambil sebagai langkah awal untuk mencegah munculnya korban tambahan sekaligus membuka proses investigasi terhadap penyebab dugaan keracunan massal.
SPPG Kalitengah diketahui memasok ribuan porsi makanan MBG setiap hari kepada sejumlah sekolah dan lingkungan pesantren di wilayah Sidoarjo.
Korban Terus Bertambah
Kasus dugaan keracunan awalnya dilaporkan terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam pada Selasa, 1 September 2026.
Namun, setelah dilakukan pendataan, jumlah penerima MBG yang mengalami gejala keracunan terus bertambah.
Kasus serupa juga ditemukan pada penerima makanan dari sejumlah lembaga pendidikan lain yang mendapatkan pasokan dari SPPG Kalitengah.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan kejadian tersebut.
“Per kemarin tadi malam kami mendapatkan informasi, kami dari BGN Provinsi serta Korwil Sidoarjo langsung turun ke lapangan. Kami investigasi dan melaporkan ke pimpinan pusat,” ujarnya.
Dapur Langsung Disuspend
BGN Regional Jawa Timur kemudian menerbitkan surat penghentian sementara operasional dapur SPPG Kalitengah.
Langkah tersebut dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
“Per tadi pagi sudah ada surat suspend untuk dapur ini. Menghentikan di awal,” tegas Teguh.
Menurutnya, tim dari BGN pusat juga dijadwalkan turun langsung untuk melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut.
Hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab kejadian serta langkah yang akan diambil terhadap pengelola dapur.
Produksi 2.800 Porsi MBG
SPPG Kalitengah diketahui memproduksi sekitar 2.800 porsi makanan program MBG setiap hari.
Sekitar 1.000 porsi didistribusikan ke lingkungan pesantren, sementara sekitar 1.800 porsi lainnya disalurkan kepada lima sekolah di wilayah sekitar.
Pada hari kejadian, menu MBG yang disajikan terdiri atas nasi, telur orak-arik, sayur kacang panjang dan tempe bumbu Bali.
BGN masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apakah sumber masalah berasal dari proses pengolahan, bahan makanan, distribusi atau faktor lainnya.
BGN Bantah Isu Belatung
Di tengah penanganan kasus, beredar informasi di media sosial mengenai dugaan adanya belatung dalam makanan yang diterima siswa.
Namun, BGN membantah informasi tersebut.
“Tidak ada. Tidak benar itu,” kata Teguh.
Pihaknya meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya selama proses investigasi berlangsung.
Evaluasi Keamanan Pangan
Kasus tersebut menjadi perhatian terhadap sistem pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
BGN menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap dapur penyedia makanan, terutama berkaitan dengan kebersihan, sanitasi dan standar pengolahan makanan.
Pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) juga menjadi salah satu perhatian dalam evaluasi pascainsiden.
BGN Regional Jawa Timur akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, pemerintah daerah dan Forkopimda Sidoarjo untuk memastikan proses penanganan berjalan maksimal.
“Pastinya akan lebih ketat kaminya, dan pimpinan akan mengevaluasi kembali dari pusat,” pungkas Teguh.
Hingga kini, data jumlah korban masih terus diverifikasi. Sementara operasional dapur SPPG Kalitengah tetap dihentikan sampai hasil investigasi menentukan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.
