Share

GRESIK,iKabar.id Hubungan Gresik dan Jombang memiliki jejak panjang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Kedua daerah tersebut tidak hanya berdekatan secara geografis, tetapi juga terhubung melalui jaringan ulama, pesantren, keluarga, tradisi intelektual, hingga kegiatan sosial masyarakat.

Jejak hubungan itu bahkan telah terlihat sejak masa awal berdirinya NU. Salah satu tokoh yang menjadi penghubung penting adalah KH Faqih Maskumambang dari Gresik yang memiliki hubungan dekat dengan KH Hasyim Asy’ari dari Jombang.

Berikut lima jejak yang memperlihatkan eratnya hubungan Gresik dan Jombang dalam sejarah NU.

1. KH Faqih Maskumambang, Ulama Besar dari Gresik

KH Faqih Maskumambang lahir di Desa Maskumambang, Kecamatan Sedayu, Gresik, pada 1866. Ia merupakan putra KH Abdul Jabbar dan sejak muda mendalami ilmu agama hingga melanjutkan pendidikan ke Makkah.

Di Tanah Suci, KH Faqih berguru kepada sejumlah ulama, termasuk Sayyid Abu Bakar Syatha dan lingkungan keilmuan Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.

Keilmuan KH Faqih mencakup berbagai bidang, seperti fikih, nahwu, dan ilmu falak. Kiprahnya membuat ia dikenal sebagai salah satu ulama Nusantara dengan jaringan keilmuan yang luas.

2. KH Faqih dan KH Hasyim Asy’ari Terhubung Sejak Awal NU

Hubungan Gresik dan Jombang semakin kuat ketika NU berdiri di Surabaya pada 1926.

KH Faqih Maskumambang memiliki hubungan dekat dengan KH Hasyim Asy’ari. Dalam kepengurusan awal NU, KH Faqih menempati posisi Wakil Rais Akbar dan mendampingi KH Hasyim Asy’ari.

Hubungan tersebut juga diperkuat melalui ikatan keluarga. KH Ma’shum Ali, keponakan KH Faqih sekaligus penulis kitab Al-Amtsilah Al-Tashrifiyyah, menikah dengan Nyai Khoiriyyah Hasyim, putri KH Hasyim Asy’ari.

Jalinan tersebut menunjukkan bagaimana jaringan pesantren Gresik dan Jombang saling terhubung sejak fase awal perkembangan NU.

3. Warisan Intelektual KH Faqih

Keterhubungan Gresik dengan sejarah NU tidak hanya melalui organisasi dan jaringan keluarga. KH Faqih juga meninggalkan warisan intelektual melalui sejumlah karya berbahasa Arab.

Di antara karyanya adalah al-Nushush al-Islamiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah serta al-Manzhumah al-Daliyyah li Ma’rifah al-Syuhur al-Qamariyyah yang berkaitan dengan ilmu falak.

Karya tersebut menjadi gambaran bahwa tradisi keilmuan pesantren pada masa itu berkembang melalui pengajaran sekaligus penulisan dan pengembangan ilmu.

4. Warga Gresik Ikut Meramaikan Muktamar NU ke-35

Jejak hubungan Gresik dan Jombang kembali terlihat dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Agustus 2026.

Sejumlah elemen masyarakat Gresik turut mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan muktamar.

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, misalnya, hadir untuk menyerap aspirasi ulama terkait penguatan layanan keagamaan, termasuk kebutuhan masyarakat di Kepulauan Bawean.

Selain itu, organisasi masyarakat MADAS Sedarah DPC Gresik membuka posko di sekitar arena muktamar dengan menyediakan makanan dan minuman bagi peserta serta menyiagakan ambulans.

Kehadiran tersebut memperlihatkan bahwa keterlibatan Gresik tidak hanya dalam bentuk kehadiran di arena muktamar, tetapi juga melalui pelayanan sosial dan kemanusiaan.

5. Gus Kikin Pimpin PBNU dari Jombang

Muktamar NU ke-35 juga melahirkan babak baru dalam kepemimpinan NU. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031 melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Gus Kikin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Terpilihnya tokoh pesantren dari Jombang tersebut menjadi bagian penting dari dinamika kepemimpinan NU setelah memasuki abad kedua.

Momentum Muktamar NU ke-35 sekaligus memperlihatkan pertemuan antara tradisi pesantren, jaringan ulama, kepemimpinan organisasi, dan perkembangan NU di era modern.

Gresik dan Jombang dalam Warisan NU

Dari KH Faqih Maskumambang hingga Muktamar NU ke-35, hubungan Gresik dan Jombang menunjukkan kesinambungan yang panjang.

Hubungan tersebut tidak hanya dibangun melalui jaringan ulama dan pesantren, tetapi juga melalui ikatan keluarga, tradisi intelektual, kegiatan sosial, serta keterlibatan masyarakat dalam agenda besar NU.

Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan NU tidak lahir dari satu daerah saja. Jaringan ulama dan pesantren dari berbagai wilayah ikut membentuk organisasi yang kini telah memasuki abad kedua.

Gresik dan Jombang menjadi dua daerah yang memiliki peran penting dalam rangkaian sejarah tersebut. Dari jaringan keilmuan pada awal abad ke-20 hingga dinamika kepemimpinan NU pada 2026, keduanya terus memiliki ruang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top