SURABAYA, Ikabar.id – Perekonomian Jawa Timur masih menunjukkan kinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, tekanan inflasi dan tingginya biaya energi dinilai perlu mendapat perhatian agar tidak mengganggu aktivitas industri dan daya beli masyarakat.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan hal tersebut dalam forum Privilege Conversation Mid-Year Market Outlook 2026 yang digelar UOB Privilege Banking di Surabaya, Senin (14/9/2026).
Ekonomi Jawa Timur tercatat tumbuh 5,72 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026, sementara pertumbuhan kumulatif Januari-Juni mencapai 5,84 persen. Jawa Timur juga menjadi salah satu kontributor utama perekonomian nasional.
Industri Manufaktur Jadi Perhatian
Menurut Emil, struktur ekonomi Jawa Timur yang cukup kuat ditopang sektor manufaktur membuat perkembangan biaya energi menjadi salah satu faktor penting.
Sektor manufaktur menyumbang sekitar 31,11 persen terhadap perekonomian Jawa Timur. Selain itu, sektor perdagangan juga memiliki kontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Kondisi tersebut membuat perubahan harga bahan bakar maupun gas dapat memberikan dampak terhadap biaya produksi. Karena itu, menjaga stabilitas energi menjadi bagian penting dalam mempertahankan daya saing industri.
Inflasi Jatim Perlu Diantisipasi
Tekanan inflasi juga menjadi perhatian. Pada Agustus 2026, inflasi Jawa Timur tercatat 0,34 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,21 persen.
Secara tahunan, inflasi Jawa Timur berada di level 3,32 persen. Emil menilai kenaikan harga tidak selalu disebabkan oleh tingginya permintaan atau kondisi ekonomi yang terlalu panas.
Ia menyoroti kemungkinan adanya hambatan dari sisi pasokan yang kemudian meningkatkan biaya produksi. Dalam kondisi tersebut, kebijakan pengendalian inflasi perlu mempertimbangkan sumber persoalan agar tidak justru menekan aktivitas ekonomi.
Strategi Investasi Harus Disesuaikan
Di sisi lain, UOB menilai kondisi ekonomi yang dinamis membuat strategi investasi tidak bisa diterapkan secara seragam kepada seluruh nasabah.
Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo mengatakan pendekatan layanan diarahkan pada kebutuhan, tujuan finansial, tahapan kehidupan, serta profil risiko masing-masing nasabah.
Sementara Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto menegaskan bahwa produk investasi seharusnya dipilih setelah tujuan dan tingkat risiko nasabah dipahami.
Dengan pendekatan tersebut, nasabah diharapkan dapat mengambil keputusan investasi yang lebih terukur dan sesuai dengan kondisi finansial masing-masing.
Layanan Digital dan Edukasi Diperkuat
UOB juga terus mengembangkan layanan digital untuk mendukung aktivitas investasi nasabah. Lebih dari separuh nasabah kategori privilege disebut telah memanfaatkan platform digital untuk melakukan transaksi investasi.
Selain layanan digital, edukasi dan pembaruan informasi pasar juga dinilai penting. Forum market outlook menjadi salah satu sarana untuk membantu nasabah memahami perubahan ekonomi dan perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan finansial.
Bagi Jawa Timur, tantangan ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan tekanan inflasi, biaya energi, dan dinamika global tidak menghambat aktivitas industri maupun investasi.
