Share

GRESIK, Ikabar.id – Pemerintah Kabupaten Gresik memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha untuk mempercepat pemenuhan akses air minum dan sanitasi layak bagi masyarakat. Strategi tersebut diarahkan melalui pemetaan kebutuhan dan penyatuan data agar dukungan perusahaan dapat diberikan secara lebih tepat sasaran.

Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menyampaikan hal itu dalam Stakeholder Forum dan Sharing Session 2 Program Peningkatan Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak yang digelar Cempaka Foundation di Hotel Aston Gresik, Kamis (10/9/2026).

Capaian Masih Perlu Didorong

Data Bappeda menunjukkan pekerjaan rumah di sektor air dan sanitasi Gresik masih cukup besar. Pada 2025, akses sanitasi aman tercatat 2,69 persen dari 11.787 rumah tangga, sementara target RPJMD 2025-2029 berada di angka 23,41 persen.

Untuk akses air minum, capaian berada pada 45,07 persen, sedangkan target yang ditetapkan mencapai 78,81 persen. Kondisi tersebut membuat percepatan melalui kolaborasi menjadi kebutuhan penting.

Perusahaan Didorong Masuk ke Wilayah Prioritas

Pemkab Gresik mendorong perusahaan memanfaatkan program CSR untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, bantuan diharapkan tidak berjalan berdasarkan inisiatif masing-masing tanpa melihat kebutuhan wilayah.

Melalui konsep satu peta, satu data, dan satu intervensi, pemerintah ingin mengetahui wilayah yang sudah terlayani, kawasan yang masih memiliki keterbatasan, serta jenis kebutuhan yang harus diprioritaskan.

Dengan pola itu, program perusahaan dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan dan diselaraskan dengan prioritas pembangunan daerah.

Infrastruktur Bukan Satu-satunya Persoalan

Washil mengingatkan, pembangunan fasilitas air minum dan sanitasi tidak berhenti ketika infrastruktur selesai dibangun.

Keberlanjutan layanan, kualitas air, distribusi, pengelolaan limbah hingga perubahan perilaku masyarakat juga harus diperhatikan. Infrastruktur yang tersedia harus dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Persoalan sanitasi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat, pencegahan stunting, pengurangan kemiskinan, kualitas lingkungan serta produktivitas masyarakat.

Karakter Gresik Membutuhkan Pendekatan Berbeda

Kondisi geografis Gresik yang beragam membuat penanganan air dan sanitasi tidak bisa disamaratakan. Ada wilayah perkotaan dan industri, tetapi juga kawasan pesisir, perdesaan, pertanian, perikanan hingga daerah yang berkembang pesat.

Karena itu, pemetaan berbasis data diperlukan untuk menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan karakter setiap wilayah.

Pendekatan tersebut juga diharapkan mencegah terjadinya program yang tumpang tindih sekaligus memastikan kawasan yang belum tersentuh dapat menjadi sasaran berikutnya.

Edukasi Masyarakat Ikut Menentukan

Selain pembangunan fisik, Pemkab Gresik menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting dari keberhasilan program sanitasi.

Pengalaman pembangunan IPAL komunal di Gresik menunjukkan bahwa edukasi dapat membantu meningkatkan penerimaan masyarakat. Ketika warga memahami dampak sanitasi yang tidak aman terhadap kesehatan dan lingkungan, keterlibatan mereka dalam pengelolaan fasilitas juga semakin penting.

Kolaborasi Diharapkan Menghasilkan Program Nyata

Cempaka Foundation sendiri telah menjalankan program terkait air bersih dan sanitasi di Gresik sejak 2021 bersama sejumlah mitra. Intervensi antara lain dilakukan di sejumlah wilayah Manyar, Bungah dan kawasan perkotaan Gresik.

Salah satu model yang dikembangkan adalah master meter di Desa Banyuwangi, Kecamatan Manyar, yang memungkinkan masyarakat melalui kelompok pengelola air mengelola layanan secara lebih mandiri.

Forum kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Pemetaan kebutuhan yang lebih jelas diharapkan dapat menghasilkan kerja sama konkret sehingga akses masyarakat Gresik terhadap air minum dan sanitasi layak terus meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top